Tampilkan postingan dengan label inilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inilah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

Inilah Rupa dan Bentuk Otak Einstein yang Super Jenius

Bagi yang belum pernah melihat, gambar di atas menunjukkan otak Albert Einstein. Tahun 1955, setelah Einstein meninggal, ahli patologi dari Princeton University, Thomas Harvey, mengambil otak sang genius itu lewat autopsi. Ia berharap kecerdasan bisa terungkap dengan meneliti otak tersebut.


Beragam penelitian kemudian nyatanya memang mengungkap beberapa keunikan otak Einstein yang diduga terkait dengan kecerdasannya. Tahun 1985, peneliti bernama Marian Diamond mengungkap bahwa otak Einstein memiliki lebih banyak sel glial sehingga organ tersebut mampu bekerja lebih efektif. Hasil penelitian ini menarik namun dianggap kurang dapat dipercaya.

Tahun 1995, penelitian lain mengungkap bahwa memiliki bagian lobus parietal yang ukurannya 15 persen lebih besar dari orang normal dan tidak memiliki celah yang biasanya didapati pada orang umumnya. 


Lobus parietal bertanggungjawab pada kemampuan spasial dan matematis. Ukuran yang besar menunjukkan kemampuan matematis yang lebih tinggi. Sementara dengan tak adanya celah, sel-sel dalam lobus parietal otak Einstein mampu berkomunikasi lebih cepat sehingga mendukung kemampuan berpikir.

Tahun 2012, tinjauan penelitian Dean Falk dari Florida State University dan rekannya menunjukkan bahwa bagian depan otak depan, bagian somatosensori, motor primer, lobus parietal, korteks temporal, dan oksipitalis pada otak Einstein istimewa. Dengan keistimewaan itu, Einstein memiliki kemampuan penglihatan, spasial, dan matematis yang istimewa.

Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Brain pada 24 September 2013, seperti diberitakan Huffington Post,  kembali mengungkap keunikan otak sang genius. Riset yang juga dilakukan oleh Dean Falk tersebut menemukan bahwa corpus callosum, bagian yang menghubungkan bagian kiri dan kanan otak, unik.

Setelah membandingkan dengan corpus callosum dari 15 pria tua dan 52 pria yang lebih muda yang hidup pada tahun 1905, Falk menemukan bahwa bagian corpus callosum Einstein lebih tebal sehingga mendukung komunikasi antara dua bagian otak yang lebih baik, membuat Einstein punya kecerdasan lebih tinggi. 


Sumber :
sains.kompas.com

sumber
ReadFull Article ..

Jumat, 14 Februari 2014

Inilah Mobil Pemadam Kebakaran Terkecil di Dunia

Inilah Mobil Pemadam Kebakaran Terkecil di Dunia

Kebakaran sering terjadi di permukiman pada penduduk, yang sulit dilewati, atau bahkan gang kecil yang kadang menyulitkan pemadam kebakaran.

Hal ini mungkin dapat diatasi dengan mobil pemadam kebakaran unik asal Lincolnshire, Inggris. Yang dirancang selama 4 bulan untuk menjadi mobil pemadam kebakaran terkecil di dunia.

Mobil ini merupakan tinjauan modifikasi mobil Reliant Robin, yang merupakan mobil klasik langka yang hanya memiliki 3 roda dengan bentuknya yang ramping.

Mobil Reliant Robin Yang Asli
Mobil Reliant Robin
“Mobil pemadam yang kecil akan memudahkan proses pemadaman. Tidak ada kendaraan yang lebih kecil dari Reliant Robin, kecuali sepeda.” - John Ward, si pemodif mobil.
Meskipun kecil, mobil ini telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan enam meriam air. Dua di atap, dua di kap mesin dan sisanya di belakang mobil dengan tangki yang mampu terisi hingga 50 liter.

Tidak sampai di situ, mobil merah ini juga dilengkapi tanggap penyelamatan dan sirine. Serta lonceng dari kuningan yang membuatnya benar-benar seperti mobil pemadam kebakaran.

Mobil Reliant Robin ini mampu memuat 2 petugas pemadam di jok depan dan melaju hingga kecepatan 96 km/jam.

Cocok gak ya digunakan di Indonesia?
ReadFull Article ..

Jumat, 22 November 2013

Inilah Gadis yang Mendonorkan Alat Vitalnya




Linangan air mata mengiringi kepergian Laura Greenway. Namun, gadis asal Inggris itu menyelamatkan tiga nyawa sesamanya.

Selama empat tahun, Laura berjuang melawan penyakit paru-paru langka yang sulit disembuhkan. Upaya medis terakhir yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya adalah pemasangan paru-paru buatan di tubuh gadis 18 tahun itu.

"Dengan tingkat keberhasilan hanya 20 persen, operasi itu nyatanya gagal. Laura mengalami komplikasi yang mengakibatkan otaknya kehilangan fungsi," kata ayahnya, Peter Greenway, 46, seperti dikutip harian New York Daily News.

Dengan berurai air mata, keluarganya akhirnya sepakat untuk menyudahi siksaan yang mendera Laura. Mereka mengizinkan dokter untuk mencabut semua alat pendukung hidup yang masih tertempel di tubuh Laura. "Semua keluarga memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal dan matikan mesin. Kami semua hancur," kata Peter.

Sekitar satu tahun lalu, Laura mendaftarkan diri sebagai pendonor organ. Ia melakukan itu karena sadar penyakitnya tak bisa disembuhkan dan yakin kematiannya sudah dekat. Ia tak ingin mati sia-sia, karena ia menandatangani kontrak yang mengizinkan dokter mengambil organnya untuk orang lain, setelah ia meninggal.

Niat baik itu terwujud setelah dokter mengangkat hati, ginjal, dan pankreasnya untuk membantu tiga pasien lain yang kritis. "Itu sesuatu yang ingin ia lakukan, untuk memberikan sesuatu dan membantu orang lain memiliki kesempatan hidup. Ia tak ingin orang lain menunggu dalam pengharapan seperti dia," kata ayahnya.

Peter masih tak bisa lupa saat terakhir melihat putrinya sadar, 2 September lalu. "Laura berbalik pada saya dan berkata, aku tidak punya pilihan lain, aku harus mencoba ini (operasi pemasangan paru-paru buatan). Sejak itu, ia tidak pernah bangun lagi," katanya.



sumber
ReadFull Article ..